forum guru sejarah kendal

sebuah wadah bagi guru sejarah dan pemerhati budaya untuk memperbincangkan dunia kesejarahan, mengembangkan wawasan kebhinekaan, dan menerabas sekat primordial yang sesat, agar mampu mencipta kebersatuan negeri ini tanpa pernah menepis keperbedaan kesukuan, kultur, bahasa, dan tradisi.

Kamis, 19 Februari 2009

KEMAH BUDAYA SEBAGAI MODEL PEMBELAJARAN MULTIKULTUR DAN PENANAMAN NILAI-NILAI SEJARAH PADA GENERASI MUDA*

A. PENDAHULUAN
Model pembelajaran yang dapat digunakan untuk memaksimalkan penanaman nilai-nilai kepahlawanan selama ini kurang mendapatkan respon yang baik dari kalangan pendidik dan pemerintah. Guru sebagai pelaksana kebijakan pemerintah dirasakan mengalami apa yang dianggap sebagai stagnasi dan kekakuan pembelajaran. Pemberian kurikulum yang sarat batasan nilai membuat anak didik menjadi tidak mampu memahami apa yang dapat diambil dalam pelajaran sejarah. 
Di sisi lain persoalan penanaman nilai yang tidak sepenuhnya mampu diterima secara baik oleh anak didik dapat mengakibatkan apa yang dinamakan disintegrasi cultural. Anak didik sebagai calon pewaris kebudayaan dan sejarah mengalami kebekuan dan kehilangan orientasi dengan generasi sebelumnya. Anak didik pun pada akhirnya tidak mampu merespon keperbedaan budaya dengan etnis lain yang ada di Indonesia ini. Ikatan historis antar generasi tersebut sudah terputus sehingga masing-masing etnis akan memisahkan masa lalu tanpa harus merasa kehilangan jalinan emosi dengan sejarah dan kepahlwanan bangsa ini. Persoalan ternyata tidak berhenti di titik itu, materi multikultur yang saat ini mulai gencar diaplikasikan dalam muatan materi pelajaran di bangku sekolah menengah seolah tidak dapat membuat anak didik mendapatkan sesuatu yang membuka mata hati mereka. Multikultur sebagai materi pelajaran dianggap berisi slogan kosong yang menafikan realitas keindonesiaan saat ini. 
Fakta di lapangan, pengajaran tentang multikultur di Indonesia seakan terpisah dengan pengajaran sejarah yang berisi penanaman nilai-nilai kepahlawanan. Pendidikan multikultur biasanya diberikan pada model pengajaran yang lebih condong pada mapel sosiologi, antropologi atau pendidikan kewarganegaraan. Sangat jarang terjadi pengintegrasian pendidikan sejarah dengan materi multikultur secara simultan.
 Kalaupun ada pengintegrasian multikultur dengan sejarah barangkali sebatas usaha coba-coba yang hasilnya tidak maksimal dan tidak mungkin diharapkan pencapaian manfaatnya di masa mendatang. Jika kita melihat karakteristik dari pelajaran sejarah di bangku sekolah menengah sangat tidak ada usaha untuk mengarah pada upaya penyatuan kedua materi tersebut. Sejarah sebagai sebuah media pendidikan dan pembelajaran berisi fakta-fakta masa lalu yang sangat kering dan miskin pemahaman. Sebaliknya pendidikan multikultur sangat jarang untuk mencoba melihat kenyataan historis di masa lalu yang banyak mengungkap keperbedaan masyarakat Indonesia yang dapat dilihat dari berbagai aspek kehidupan.
 Penanaman nilai sejarah dan multikultur pada hakikatnya dapat dipersatukan dengan baik jika ada usaha kreatif dari masyarakat, pemerintah, dan pihak penyelenggara pendidikan untuk memanfaatkan moment dan media apa saja agar kedua unsur itu dapat diterima tanpa membebani anak didik. Nampaknya salah satu usaha yang dapat diterima oleh beberapa kalangan, terutama anak didik adalah pemanfaatan ajang kemah budaya sebagai model pengintegrasian pembelajaran multikultur dan sejarah.
 Tulisan ini mencoba melihat sejauhmana manfaat dan efektifitas model kemah budaya dalam pengintegrasian aspek multikultur dan penanaman nilai kepahlawanan sebagai pengganti metode konvensional yang umumnya sudah dilakukan oleh bapak/ibu guru di sekolah 

B. PEMBAHASAN
1. PEMAHAMAN MULTIKULTUR 
Multikultur adalah suatu situasi dan kondisi di mana suatu negara terdiri atas suku bangsa-suku bangsa yang memiliki kandungan bahasa, budaya dan adat-istiadat masyarakat yang berbeda-beda. Secara sederhana multikultur berarti beragam kultur (KBBI, 2001). Kultur yang beraneka ragam ini di satu sisi bisa menjadi asset sebuah bangsa untuk mengembangkan pembangunan dan potensi-potensinya, namun di sisi lain kultur yang bermacam-macam ini dapat menjadi sumber persoalan dan masalah dalam pembangunan bangsa. Jika sebuah bangsa tidak mampu mengakomodasi, meramu, dan mensinergikan kultur-kultur itu dengan cara yang apik dan kontekstual maka bukan pembangunan yang diharapkan bangsa tersebut melainkan peperangan dan konflik antar suku. Sebaliknya jika bangsa itu mampu menempatkan dan menonjolkan persamaan di atas perbedaan yang secara lahiriah memang ada maka bangsa tersebut bisa mengendalikan keadaan dan mampu meletakkan dasar yang baik bagi identitas bangsa tersebut selanjutnya. Suku dan adat istiadat yang beraneka ragam bisa memicu persoalan yang pokok bagi bangsa yang plural jika bangsa tersebut tidak mampu belajar dari sejarahnya. 
Sebagai contoh: Indonesia dengan perkiraan jumlah penduduk sebesar 226 juta merupakan masyarakat multikultur. Ada sekitar 300 etnis dan bahasa dalam negara kepulauan ini (Suprapto,1982). Pada pertengahan tahun 1980-an ada sekitar 82% populasi terdiri atas 14 etnis utama, dan tahun 1986 sekitar 99,4% penduduk tersebut terbagi atas empat agama besar di dunia seperti Islam (86%) Protestan (6,5%), Katolik (3,1%) Hindu (1%) dan Budha (0,6%) (Liddle, 1997: 275). Perbedaan kultur dapat dirasakan pula pada tradisi pedesaan dan suku primitive yang langsung berhadapan dengan komunitas metropolitan yang berorientasi pada globalisasi-modernisasi.
Kekayaan kultur ini bisa mengancam sekaligus mengintegrasikan bangsa ini menuju cita-cita yang diinginkan. Jika pola manajemen yang berbasis pada keberagaman sudah pasti bangsa ini akan berhasil meraih harapan yang dicita-citakan. Namun jika pengelolaannya berbasis pada penyeragaman maka hasilnya adalah disintegrasi dan kebencian etnis satu dengan yang lainya. Bisa jadi Indonesia tinggal nama yang pernah tercatat dalam sejarah. 

2. PENDIDIKAN MULTIKULTUR
Pendidikan Multikultural merupakan pendidikan yang berbasis pada pengakuan harkat dan perbedaan peserta didik. Peserta didik sebagai insan yang tumbuh memiliki latar sosial dan budaya yang berbeda. Model pendidikan multikultur adalah bagaimana sebuah sekolah mampu memberikan kurikulum yang mengembangkan pola keperbedaan antar sesamanya. Menurut Gorski (2001) pendidikan multikultur merupakan pendekatan progresif untuk memindahkan pendidikan yang penuh kritik dan dialamatkan pada arah kegagalan dan pola latihan yang bernuansa diskriminasi dalam pendidikan. Hal ini terkait dengan idealisasi keadilan sosial, kesamaan pendidikan dan sebuah dedikasi untuk memfasilitasi pengalaman pendidikan dalam mana semua anak didik dapat meningkatkan potensi penuh mereka sebagai pembelajar dan memiliki kesadaran sosial dalam kerangka aktivitas kemanusiaan, lokalitas, nasionalitas dan global. Pendidikan multikultur mengatakan bahwa sekolah merupakan tempat untuk meletakkan pondasi guna transformasi masyarakat dan mengurangi represi dan ketidakadilan.
 Namun demikian untuk memberikan apa yang sudah disebutkan di atas, ruang kelas yang permanent terkadang bukan alternative cara yang tepat. Kelas-kelas indoor kerap membuat anak didik bosan dan akibatnya kurang memaksimalkan ketertarikan terhadap materi multikultur di atas. Lalu apa yang bias dilakukan seorang guru untuk memotivasi anak didik mengenal lebih mendalam tentang keperbedaan dan keragaman Indonesia ini. Tentu saja menggunakan sebuah model pembelajaran di luar kelas adalah sebuah alternatif pilihan untuk merangsang anak didik tertarik dan lebih peka terhadap apa yang menjadi permasalahan bangsa ini (Muslichin, 2007: 5-6). Dengan model kemah budaya, seorang anak didik jelas akan dikumpulkan bersama dengan anak didik dari sekolah lainnya. Mereka bias jadi memiliki kultur yang berbeda-beda pula. Di sini nanti akan terjadi ajang perkenalan dan perbenturan secara alamiah nilai-nilai budaya dan tradisi yang beragam untuk saling menyapa dan menghargai. Dalam kemah Budaya itu tidak hanya nilai kultural saja yang dapat diperkenalkan antar anak didik tersebut, tetapi mereka juga dapat mengenal sejarah dari situasi dan kondisi di mana kemah tersebut diadakan. 

3. MODEL PEMBELAJARAN SEJARAH
Di sisi lain membicarakan kemah budaya sebagai model penanaman nilai-nilai kepahlawanan akan lebih sistematis bila menyinggung terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan konsep pembelajaran sejarah. Pembelajaran sejarah adalah serangkaian kegiatan yang ditujukan untuk melangsungkan persiapan, pelaksanaan, dan pencapaian hasil belajar yang menyangkut bidang studi sejarah. Dalam konteks pembelajaran konvensional mapel sejarah seringkali diberikan pada anak didik dalam bentuk ceramah. Banyak orang akhirnya menganggap bahwa karak-teristik sejarah memang materi yang penuh dengan hafalan saja.
 Pandangan ini tidak benar. Di dalam kurikulum KTSP sudah diberikan keleluasaan pada guru untuk memberikan materi yang sesuai dengan kebutuhan lokal. Guru dapat memberikan tambahan materi berdasarkan apa yang sesuai dengan konteks lingkungan sekolah masing-masing. Namun demikian apa yang diharapkan pemerintah melalui kurikulum terbaru tersebut belum mampu diterjemahkan dengan baik oleh para guru yang ada di lapangan.
 Dengan model pembelajaran yang teks book, ceramah, mencatat, dan menghafal jelas akan membuat pelajaran sejarah ini ditinggalkan begitu saja. Guru sejarah harusnya mampu menggiring anak untuk berpartisipasi secara penuh dalam setiap kegiatan belajar. Guru sejarah hendaknya menggunakan metode CTL (contextual teaching Learning) dalam mengarahkan hakikat sebuah peristiwa masa lalu. Anak didik dapat diajak untuk menemukan sesuatu secara mandiri dengan cara menyelidiki dan menggali sendiri informasi yang menyangkut peristiwa masa lalu tersebut (Wasino, 2007: 1-2).
 Agaknya, metode yang mengajak anak didik memasuki apa yang dinamakan lingkungan sosial dan budaya belum diperkenalkan sama sekali. Sejauh ini sangat jarang guru mempergunakan kesempatan ini untuk berupaya mengarahkan anak didik mencari sendiri informasi apa saja sehingga hal itu dapat membangun pengetahuan sejarah secara mandiri (konstruktivisme).
 Dalam konstruktivisme ini, guru tidak dengan sendirinya memin-dahkan pengetahuan kepada anak didik dalam bentuk yang serba sempurna. Anak didik harus membangun suatu pengetahuan berdasarkan pengalamannya masing-masing. Pembelajaran adalah hasil usaha peserta didik itu sendiri. Hal ini terkait dengan aktivitas mental anak didik sebagai bahan mentah bagi proses renungan dan pengabstrakan. Pikiran anak didik tidak akan menghadapi kenyataan dalam bentuk yang terasing dalam lingkungannya sendiri. Realita yang dihadapi anak didik adalah realita yang mereka bina sendiri. Untuk itu, guru harus memperkirakan struktur kognitif yang ada pada mereka. Jika pengetahuan baru sudah mampu diserap dan dijadikan pegangan mereka, baru guru dapat memberikan informasi pengetahuan yang melimpah (Utomo, 2007: 4) 

4. KEMAH BUDAYA DAN PENANAMAN NILAI KEPAHLAWANAN
Oleh karena itu, sebagai upaya pembentukan kemampuan menemukan sesuatu secara mandiri informasi yang akan dibentuk menjadi pengetahuan tersebut (Inquiry) maka salah satu upayanya adalah model kemah budaya. Model ini hampir sama dengan lawatan sejarah yang sering dilakukan oleh Sie Jarahnitra Subdin Kebudayaan Jawa Tengah, hanya saja dalam kemah budaya ini anak didik berada di sebuah tempat yang menyerupai tenda atau home stay yang di dalam kegiatan tersebut ada beragam permainan, lomba, atraksi kesenian, sarasehan, dan sebagainya yang dapat memacu anak didik mengenal budaya lingkungan dan sejarah lokal.
 Model kemah budaya ini menjawab paradigma bahwa sejarah tidak hanya berkaitan dengan masa lalu saja. Kemah budaya justru mampu mengingatkan apa yang dapat kita hindarkan dan mana yang dapat kita pupuk terus sebagai sumber motivasi membangun kebersamaan. Dalam konteks sejarah, kebersamaan justru prioritas dibangun melalui komitmen dan tindakan nyata, seperti halnya dahulu ketika bangsa kita mengusir penjajah (Nurjanto, 2007: 5 & Lestariningsih, 2007: 3).
 Kemah budaya merupakan alternatif pembelajaran yang menarik dan tidak membosankan. Kemah budaya adalah upaya menjadikan sejarah sebagai kata kerja. Sejarah sebagai praktik tentu akan lebih menyenangkan bagi siswa untuk belajar apalagi diimbangi dengan berwisata. Guru dapat mengajak anak didik mengunjungi situs dan monumen sejarah. Untuk memperdalam pemahaman dan pemaknaan peserta kemah budaya dapat berdialog dengan sejarawan, tokoh/pelaku sejarah dan narasumber sejarah lokal (Zuhdi, 2007: 4).
 Sejarah perjuangan bangsa dapat dilacak pada situs-situs, bangunan bersejarah, dan lingkungan masyarakat setempat. Masyarakat melalui sejarah lisan atau tradisi lisan masih menyimpan kenangan tentang para pejuang yang diasingkan atau yang ada di daerahnya. Dalam hal ini, tempat-tempat tersebut menjadi simpul-simpul yang menghubungkan sejarah antar daerah yang memberi sumbangan pada terbentuknya keindonesiaan. Oleh karena itu upaya penelusuran simpul tersebut dapat dilakukan melalui kemah budaya (Nurjanto, 2007: 5).
Dalam konteks sejarah lokal, khususnya apa yang terjadi di Kabupaten Kendal ini, kemah budaya dapat juga dijadikan sebagai media untuk melihat langsung situs peninggalan sejarah lokal yang terdiri atas:
a. Kompleks Makam Bupati Kaliwungu
Kompleks makam ini terletak di dukuh Protokulon, Protomulyo Kecamatan kaliwungu. Secara keseluruhan kompleks makam ini dibagi dalam tiga bagian yang disebut Gedong Lor, Gedong Tengah, dan Gedong Kidul. 
b. Makam Kyai Haji Asy’ari
Makam ini terletak di sebuah kompleks makam di daerah perbukitan yang sama dengan kompleks makam Bupati Kaliwungu. Wilayah ini terletak di desa Protowetan Protomulyo Kaliwungu. Ketika masih hidup K.H. Asy’ari adalah utusan Mataram yang menyebarkan agama Islam di daerah tersebut (Indra, 2005: 2).
c. Makam Sunan Katong
Tokoh yang dimakamkan di sini adalah Sunan Katong. Semasa hidup, beliau adalah putra Brawijaya terakhir dari Majapahit yang menyebarkan agama Islam di daerah Kaliwungu.
d. Makam Pakuwojo
Tokoh yang dimakamkan di sini adalah Pakuwaja bersama istrinya. Menurut juru kunci, beliau adalah murid Sunan Katong.
e. Gapuro Kabupaten Kaliwungu
Gapuro ini dianggap berasal dari masa pemerintahan bupati Kaliwungu I yaitu sekitar abad XVI M. Gapuro yang terletak di wilayah desa Kutoharjo Kaliwungu ini dahulu merupakan gerbang masuk ke kabupaten dari arah utara (Rochani, 2003).
f. Yoni dan Peti Batu
Terdapat sebuah fragmen yoni berbahan batu andesit terletak di dukuh Nglimut Gonoharjo Limbangan. Di sebelah selatannya terletak sebuah peti batu. Bentuknya berupa balok empat persegi panjang dengan lubang berbentuk segi empat di bagian atas.
g. Sisa Bangunan Candi
Terdapat sisa-sisa bangunan candi seperti yoni, kemuncak, batu candi, balok batu candi, antefik, dan peripih di daerah dukuh Nglimut Gonoharjo Limbangan.
h. Situs Segono
Di desa Gonoharjo ditemukan sisa-sisa tinggalan arkeologis berupa fragmen arca ganeca, agastya, Siwa, kemuncak dan lingga semu. Situs ini terletak pada ketinggian 600 m dpl di lereng barat Gunung Ungaran (Anonim, 2000: 11-13).
  
PENUTUP
Oleh karena itu adanya obyek-obyek sejarah yang berdekatan dengan seting dilaksanakan kegiatan kemah budaya, semakin diharapkan mampu mendekatkan anak didik atau peserta kemah budaya pada realitas masa lalu yang sebenarnya. Mereka dapat bertanya langsung pada juru kunci makam atau situs yang setidaknya mengetahui hal-ikhwal sebuah benda cagar budaya. Di sela-sela bertanya mereka dapat menikmati keindahan alam lingkungan dan merasakan prosesi napak tilas ke masa lalu melalui mekanisme yang menyehatkan.
 Dengan cara tersebut anak didik akan menemukan sebuah transformasi pengetahuan historis dan budaya dengan sendirinya. Rasa kehausan mereka akan informasi tokoh-tokoh masa lalu memunculkan semangat pencarian tentang siapa pahlawan dan tokoh masa lalu yang di lingkungan setempat.  
 Ketika proses itu berjalan maka dengan sendirinya akan memunculkan pula ego budaya masing-masing. Ego ini akan berangsur hilang bila pada saat berdiskusi dan bertanya jawab yang ada dalam session tersebut dilaksanakan. Peserta yang berasal dengan latar belakang budaya dan sosial satu dengan yang lainnya akan merasa sama dan menyatu dalam status sosial mereka yang baru yaitu sama-sama sebagai peserta kemah budaya. Di sini mereka mulai menemukan arti persamaan dan persaudaraan. Apalagi dalam kegiatan kemah budaya juga diimbangi dengan atraksi seni budaya yang bermacam-macam semakin menambah semangat penghargaan dengan insan sesama.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2000. Budaya Marginal Masa Klasik di Jawa Tengah Bagian Barat Laut. Laporan Penelitian Arkeologi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional: Balai Arkeologi Yogyakarta.

Hartatik, Endah Sri, 2007. Pemanfaatan Museum, Monumen Perjuangan, Makam Pahlawan dan Saksi Sejarah sebagai Sumber Sejarah. Makalah Seminar Peningkatan Pembinaan Kesadaran Sejarah bagi Generasi Muda Subdin Kebudayaan Dinas P dan K Propinsi Jawa Tengah di Kopeng Kabupaten Semarang.

Indra. 2005. Benda Cagar Budaya Kabupaten Kendal. Makalah Lokakarya Permuseuman Jawa Tengah di Kendal 15-17 Juni 2005.

Lestariningsih, Amurwani Dwi. 2007. Lawatan Sejarah sebagai Program Strategis dalam Meningkatkan Kesadaran Sejarah. Makalah Seminar Nasional (Tidak Diterbitkan). Unnes: Semarang.

Muslichin, 2007. Tantangan Pendidikan Multikultur dalam Konteks Kemajemukan Masyarakat Indonesia. Makalah Mata kuliah Pendidikan Multikultur Program Pascasarjana Pendidikan IPS Unnes Semarang.

------------, 2007. Identifikasi Benda Cagar Budaya di Kabupaten Kendal. Makalah Mata Kuliah Pengantar Ilmu Sejarah Program Pascasarjana Pendidikan IPS Unnes Semarang.

Nurjanto, 2007. Wisata Sejarah sebagai Salah Satu Upaya Menelusuri Perjalanan Sejarah Bangsa. Makalah Peningkatan Pembinaan Kesadaran Sejarah bagi Generasi Muda. Subdin Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah.

Zuhdi, Susanto. 2007. Lawatan Sejarah sebuah Tawaran Metode Efektif untuk Pembelajaran Sejarah. Makalah Seminar Nasional (Tidak Diterbitkan). Unnes: Semarang.
Utomo, Cahyo Budi. Lawatan Sejarah sebagai Model Pembelajaran Sejarah. Makalah Seminar Nasional (Tidak Diterbitkan). Unnes: Semarang.

Wasino, 2007. Penelitian Sejarah di Kalangan Siswa sebagai Model Pembelajaran Sejarah di Sekolah. Makalah Seminar Nasional (Tidak Diterbitkan). Unnes: Semarang.

Liddle, R. W. 1997. Coercion, Cooptation, and the Management of Ethnic Relations in Indonesia dalam Brown and Ganguly (eds.) Government Policies and Ethnic Relations in Asia ad the Pacific.

Gorski, Paul. Sejarah Singkat Pendidikan Multikultural dalam Salim, Agus, 2007. Masyarakat Multikultural: Ideologi, Konsepsi dan Aplikasi. Semarang: UNNES.


*Makalah pendamping dalam Sarasehan Kemah Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kendal Di Protomulyo Kaliwungu 30 S/D 2 Desember 2007. Penulis: Muslichin, alumni Fakultas Sastra Undip dan pascasarjana Pendidikan IPS UNNES.

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda